Identitas Buku :
Judul Novel: Brianna and Bottomwise
Genre Novel : Fiksi Detektif
ISBN : 978-602-291-942-1
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2022
Jumlah Halaman: 361 halaman
Sinopsis :
Novel ini menceritakan perjalanan 2 detektif swasta dalam mencari gitar John Musiciante yang hilang yang bernama Vintage Sunburst 1960. John Musiciante sendiri adalah gitaris rock legendaris asal Amerika yang dibesarkan oleh ibu tunggal. Gitar itu adalah hadiah ulang tahunnya yang ke-12 dari ibunya yang harus mengambil tiga pekerjaan. John Musiciante sangat menyayangi gitar tersebut dan tidak pernah lepas darinya selama 30 tahun menjadi musisi. Namun, suatu saat ketika John sedang mengisi bensin dan membeli beberapa barang di toko, ia meninggalkan mobilnya sejenak. Ketika kembali keluar, ia melihat kaca mobilnya telah hancur dan gitarnya telah dicuri. Dia pun sangat panik dan memanggil polisi dan juga detektif swasta Brianna dan Bottomwise. Mereka berusaha menelusuri jejak gitar yang berpindah-pindah tangan melalui berbagai tempat dan tokoh yang unik. Dalam perjalanannya, gitar itu bahkan menempuh perjalanan jauh dari Fresno, California, hingga sampai ke sebuah kampung terpencil bernama Ketumbi di Pulau Senyap, Sumatera.
Selama penyelidikan, para tokoh bertemu dengan berbagai karakter menarik seperti Alma dan Ameru, anak-anak yang berbakat di bidang musik yang sempat menerima dan memainkan gitar legendaris tersebut, ada Mafia Musik yang berusaha merebut gitar itu, ada pria bernama Sadman dan kelompok orkes Melayunya yang tidak memiliki bakat musik untuk berjuang mempertahankan musik tradisional. Petualangan ini juga ditambah dengan karakter pendukung seperti The Terong Brothers yang bertugas mencari gitar yang hilang di Sumatra, seorang dukun yang membantu membuang sial dari gitar Musiciante, dan Pak Mu, orang tua linglung yang memiliki memori masa lalu dengan gitar itu. Cerita ini terus berpindah-pindah dari perjalanan mencari gitar oleh kedua detektif dengan plot cerita para karakter, hingga semuanya menuju benang merah yang sama, yaitu gitar Vintage Sunburst 1960. Pembaca diajak untuk mengikuti perjalanan penuh humor dan misteri sambil melihat pengalaman perjuangan dan kerja keras masing-masing karakter dalam meraih mimpinya.
Kelebihan :
1. Cerita yang Unik untuk Masing-masing Karakter
Novel ini menghadirkan banyak tokoh dengan latar belakang dan pengalaman berbeda, terutama dalam dunia musik. Hal ini membuat cerita terasa kaya karena setiap tokoh membawa kisah dan motivasinya sendiri. Sadman dan kawan-kawannya merupakan orang yang tidak memiliki bakat musik dan sering diejek dengan “telinga kuali”. Meskipun begitu, mereka tidak pernah menyerah dalam mengejar mimpinya. Bahkan saat mereka sudah dewasa, mereka tetap berpegang teguh terhadap mimpi untuk membentuk band orkestra yang terkenal. Tindakan mereka juga dilakukan dengan jujur. Ketika mendapat kesempatan untuk menjual gitar Musiciante dan mendapat uang untuk membiayai band mereka. Mereka tidak tergoda dan memilih mengembalikan dengan jujur.
2. Benda Terasa “Hidup” dalam Cerita
Dalam novel ini, gitar Vintage Sunburst 1960 bukan hanya benda, tetapi seperti “tokoh” yang mengalami perjalanan panjang dan berbagai peristiwa. Hal ini membuat pembaca merasa seolah-olah benda tersebut memiliki kehidupan sendiri. Gitar legendaris itu berjumpa dengan banyak pengalaman. Gitar itu mengalami hal-hal menyenangkan maupun tidak menyenangkan, mulai dari dimainkan oleh jenius musik sampai perlakuan kasar seperti memukul mantan, digadaikan, hingga dibuang karena dianggap pembawa sial. Hal ini menggambarkan karakter manusia yang berbeda-beda, ada yang serakah, jujur, baik hati, dll.
3. Budaya, Gaya Bahasa, dan Humor Khas Melayu
Andrea Hirata sering menggunakan nuansa bahasa Melayu dalam dialog maupun narasi. Hal ini memberi warna budaya lokal dan membuat cerita terasa lebih khas. Novel ini menampilkan budaya musik Melayu seperti orkes Melayu, hadrah, rebana, dan qasidah, yang menunjukkan kuatnya pengaruh budaya Melayu dalam cerita. Selain itu, kebahasaan yang digunakan juga sering menggunakan diksi-diksi Melayu seperti “lekas”, “kelop”, dan aksen-aksen Melayu lainnya.
Kelemahan :
1. Terlalu Banyak Karakter sehingga Cerita Terasa Lompat-Lompat
Karena novel ini menampilkan banyak tokoh dengan latar berbeda, cerita sering berpindah dari satu karakter ke karakter lain. Bagi sebagian pembaca, hal ini bisa membuat alur terasa tidak fokus dan sulit untuk diikuti. Dalam cerita terdapat banyak tokoh seperti Alma, Ameru, Sadman, mafia musik, hingga kelompok orkes Melayu yang semuanya memiliki peran dalam perjalanan gitar tersebut. Namun, saya sendiri masih belum paham bagaimana beberapa karakter berhubungan dengan cerita. Contohnya adalah Pak Mu yang masih belum jelas hubungannya dengan gitar Musiciante. Apakah Pak Mu pernah mendengar lagu Musiciante atau bahkan memainkan gitarnya? Hal ini tidak terlalu jelas karena demensia yang ia idap.
2. Diksi Panjang dan Campuran Bahasa
Novel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris dan kemudian diterbitkan di Indonesia. Hal ini menyebabkan penggunaan bahasa yang lebih kompleks dan kadang bercampur dengan istilah asing. Selain itu, terdapat beberapa istilah musik yang kurang dipahami, seperti legato, solfeggio, dan karena latar belakangnya di Amerika, banyak sekali istilah-istilah dari daerah sana.
3. Kurang Ketegangan
Walaupun ada misteri pencurian gitar, sebagian cerita lebih fokus pada perjalanan musik dan kehidupan karakter daripada konflik besar atau bahaya yang intens. Hal ini membuat cerita terasa lebih santai daripada novel misteri pada umumnya. Saya sendiri lebih menyukai jika ada ketegangan atau hal-hal yang dipertaruhkan dalam memecahkan misteri-misteri yang ada, seperti genre thriller. Jika cerita hanya berupa keseharian karakter, maka itu akan terasa membosankan dan tidak sesuai selera saya.
Saran :
Saran untuk pengembangan cerita dalam novel ini adalah agar penulis dapat lebih memfokuskan alur pada beberapa tokoh utama saja. Hal ini penting karena banyaknya karakter yang muncul dapat membuat alur cerita terasa meloncat-loncat dan cukup sulit diikuti oleh pembaca. Selain itu, beberapa karakter yang menarik seperti Alma, Ameru, atau kelompok orkes Melayu dapat dikembangkan lebih dalam agar kisah mereka terasa lebih lengkap dan memberikan dampak emosional yang lebih kuat. Penulis juga dapat menambahkan konflik atau ketegangan yang lebih besar dalam cerita. Walaupun premis pencarian gitar legendaris sudah menarik, konflik yang lebih intens dapat membuat pembaca semakin penasaran dan terlibat dalam cerita.
(Karya: Yoga Hidayat / X-4 / 35)
Mereka yang melupakan mimpi-mimpinya akan bangun tidur setiap pagi dalam keadaan kalah
